Eta Terangkanlah.. Santri dan Hari Kemerdekaan..

Santri memiliki arti sebagai orang yang menuntut ilmu-ilmu agama di pesantren. Apabila santri tinggal di pesantren, maka santri tersebut dinamakan santri mukim. Sedangkan apabila santri tidak tinggal di pesantren dan pulang pergi saat proses menuntut ilmu, maka santri tersebut sering disebut santri kalong.

Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, santri memiliki peranan penting untuk perjuangan bangsa. Dimana santri menjadi garda terdepan dalam upaya merebut kemerdekaan.

Sebagai negeri terjajah, dahulu Indonesia tidak memiliki tentara. Sebab kala itu Negara Indonesia belum berdaulat, tidak ada presiden dan tidak ada perangkat negara lainnya. Sehingga wajar apabila upaya melepaskan diri dari kolonialisme penjajahan sangat sulit untuk didapat.

Namun berangkat dari pesantren, suara perjuangan untuk kemerdekaan lantang disuarakan. Upaya perlawanan terhadap penjajahan bergelora dari bilik kobong pesantren. Tentara-tentara berani mati maju untuk berjuang merebut kemerdekaan di bawah panji-panji jihad. Diantaranya adalah munculmya laskar-laskar pejuang bentukan Kiyai dan Ajengan.

Perlu kita pahami bahwa pada zaman dahulu, gerakan masyarakat selalu ditentukan oleh keputusan Kiyai dari pesantren. Ketika Kiyai memutuskan sesuatu, maka masyarakat siap untuk mengawal keputusan itu. Gerakan apapun yang akan dilakukan oleh masyarakat selalu dikonsultasikan kepada para Kiyai. Oleh karena itu, peranan Kiyai dan pesantren sangat besar jasanya dalam upaya meraih kemerdekaan negeri ini.

Terlebih kultur masyarakat Indonesia masa lalu adalah kultur masyarakat yang mengenyam pendidikan ala pesantren. Pendidikan masa lalu bukanlah pendidikan sekolah dan perkuliahan sebagaimana yang diinisiasi oleh kolonial kala itu. Masyarakat Indonesia hampir seluruhnya mengenyam pendidikan pesantren. Masyarakat yang gemar terhadap kegiatan keilmuan pasti mengaji dan menuntut ilmu pada Kiyai. Sehingga santri kala itu tidak hanya orang yang mau tinggal di pondok saja, tetapi juga masyarakat yang "ngalong" ikut pengajian di pesantren.

Wajar apabila peran Kiyai dan pengaruhnya sangat terbangun di masyarakat. Kiyai menjadi the center of power gerakan bangsa kala itu. Segala apa yang menjadi keputusan Kiyai akan sangat berpengaruh. Intruksi Kiyai adalah intruksi yang paling kuat untuk didengar.

Hal inilah yang menjadi ketakutan para penjajah. Sehingga untuk meredam gejolak di masyarakat, penjajah seringkali melobi para Kiayi untuk bisa menenangkannya. Meskipun pada akhirnya hampir semua Kiyai bersikap idealis dan tidak mudah untuk dibujuk oleh para penjajah. Tidak sedikit Kiyai yang justru menunjukan sikap perlawanan. Hal ini yang membuat penjajah kerepotan. Acap kali penjajah harus mengasingkan Kiyai agar tidak mempengaruhi gejolak masyarakat untuk melakukan perlawanan.

Oleh karena itu, saat ini, di momentum dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia ini, hendaknya santri-santri nusantara saat ini sangat bersyukur dan menghargai arti kemerdekaan. Sebab, betapa besar jasa dan perjuangan santri-santri di masa lalu. Banyak syuhada yang berguguran. Jasa-jasa santri tidak ternilai dalam perjuangan mengibarkan kibaran bendera merah putih.

Masya Allah... Kita bangga menjadi menjadi santri. Berbakti untuk negeri.
**
Santri dan Hari Kemerdekaan
Foto: Rifkiyal Robani
Penulis:
Rifkiyal Robani
(Koordinator Ikatan Santri Bandung Barat)
Tags:
Reaksi:
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar