Header Ads

Seo Services

Bahtiar Nasir, Felix Siaw dan Khilafah: NKRI Harga Nego?

Bahtiar Nasir, Felix Siaw dan Khilafah: NKRI Harga Nego?

Bahtiar Nasir dan Felix Siaw adalah dua orang ustadz yang jadi idola kaum milenial. Mereka digandrungi anak muda zaman now. Punya media dakwah kekinian dan kadang bikin gereget penyampaiannya. Bikin iman dan semangat para pemuda menjadi bergelora, bikin para akhwat klepek-klepek ingin serba berlabel syar'i, semacam dihalalin.

Sayangnya, meski kedua ustadz tersebut memiliki kebaikan, namun menjadi "batal" ketika berbicara dalam hal bernegara. Alasannya? NKRI dan Pancasila yang sudah merdeka buah perjuangan para pahlawan bangsa ini mereka anggap tidak kompatible dengan syariat agama. Mereka ingin menggantinya dengan Khilafah. Ya, Khilafah. sesuatu yang biasa dikampanyekan HTI. Pancasila (yang di dalamnya dirumuskan pula oleh para Kyai) ingin diganti dengan sistem khilafah yang belum jelas, dan terlampau asing di negeri sembilan wali ini.

Tentu, keinginan dan seruan khilafah yang mereka lalukan bisa jadi tindakan makar dalam hal ini. Dimana mereka menyerukan ideologi baru di dalam negara yang sudah memiliki ideologi. Menginginkan kedaulatan baru di negara yang sudah memiliki kedaulatan. Apakah itu bukan makar? Ingin menggulingkan sistem pemerintahan yang ada dan diganti dengan sistem pemerintahan baru sesuai dengan konsep mereka. Semacam konsep khilafah al-islamiyyah al-HTI-iyah.

Pedahal, sejatinya, konsep tersebut bagaikan wacana para jomblo yang sedang berhalusinasi, mengada-ngada. Semacam ingin poligami dan beristri empat sedangkan menikah satu pun belum.

Wajar jika kemudian ada ormas kepemudaan di daerah Bangil lalu yang menuntut Felix Siauw untuk menandatangi "kesetiaan" pada pancasila terlebih dahulu sebelum ceramah. Wajar pula jika PCNU di Garut beberapa waktu lalu menyurati Panitia penyelenggra agar mengamankan ceramah Bahtiar Nasir.

Meski akhirnya, upaya pengamanan kedaulatan negeri dari kedua ormas itu malah bagai boomerang. Sebab, ada oknum yang membumbuinya dengan pelintiran dan fitnah. Menggiring opini seakan upaya merangkul Felix Siaw dan Bahtiar Nasir sebagai penjegal pengajian. Dikesankan Felix Xiaw dan Bahtiar Nasir sebagai korban kekerasan rumah tangga. Hingga ada label-label berseliweran dengan tuduhan kepada para perangkul tadi sebagai "tukang bubarin pengajian", "premanisme", "anti islam", "antek kafir", dsb. Dan tuduhan ini justru digelindingkan oleh para milenial yang tongkrongannya medsos dengan kacamata hanya layar teknologi belaka. Tanpa tahu berbagai sudut asli yang begitu lengkap dan komplit.

Mereka, para milenial yang sukanya ikut ngeramein medsos ini jarang terlibat dalam ranah diskusi dan kajian di ruang-ruang nyata, bil muajahhah wal qohwah. Mereka tidak tahu peta gerakan agama dan gerakan kebangsaan. Mereka tidak pernah terlibat jauh dalam gerakan merawat agama dan bangsa. Bahkan mungkin saja tidak punya historis dalam perjuangan kemerdekaan. Yang mereka tahu, agama adalah apa yang ada di layar medos. Pun halnya bernegara. Beragama cukup dengan membaca quote-quote ustaz atau hadits-hadits yang kebetulan saja nemu dari gadget yang sedang di scroll. Demikian halnya dengan bernegara. Apa yang dibaca, itu yang dipegang. Sehingga kerap kali, ketika kalangan milenial awam digiring pada satu konflik politik negara, ujungnya berakhir muncrat. Mendukung si anu, membenci si anu. Alur pemikirannya hanya buah propaganda media yang dibuat oleh para pemain.

Nah lho? Kalau sudah begini mau jadi apa negeri ini.

Sudah banyak anak negeri yang pada akhirnya dibuat marah pada pemerintah, benci pada demokrasi, benci pada pancasila. Isunya digoreng-goreng, dibikin satir dan menjenuhkan. Kemudian ujung-ujungnya jenuh terhadap demokrasi. Lantas dikasih solusi khilafah. Didoktrin untuk menjadi pendukung khilafah.

"Ayo kita suarakan khilafaaaaaah...." kira-kira demikian.

Lantas dijawab, "Khilafah... Khilafah.. Khilafah..!"

Tidak beda jauh dengan apa yang dibawakan Bahtiar Nasir dan Felix Siaw dalam beberapa konten dakwahnya. Ah, sudahlah. Tulisan ini hanya bercanda. Mereun.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.