Header Ads

Seo Services

Kapitalisme Mengancam Keluarga Muslim



Oleh : Arinta Kumala

Mediaoposisi.com- Setiap keluarga berhasrat memiliki keluarga yang ideal. Keluarga ideal adalah keluarga yang setiap fungsinya berjalan ideal. Di mana setiap anggota keluarga memegang perannya masing-masing serta memahami hak dan kewajiban masing-masing.

Tapi berharap keluarga ideal di tengah himpitan sistem sekuler saat ini bagai menegakkan benang basah. Sangat sulit bahkan mustahil.

Sistem ini telah menjadi ancaman bagi keluarga muslim. Yang mengakibatkan rapuhnya ketahanan keluarga muslim. Sistem yang notabene memisahkan agama dari kehidupan ini telah memunculkan banyak masalah bagi keluarga muslim.

Masalah yang muncul dalam berbagai aspek dan berdampak negatif pada ketahanan keluarga baik secara langsung ataupun tidak langsung. Baik masalah dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya, bahkan sampai masalah kepemimpinan.

Semua masalah-masalah tersebut berdampak pada ketahanan kehidupan keluarga. Sulitnya kehidupan ekonomi menyebabkan keluarnya wanita dari fitrahnya sebagai al umm wa rabbah al bayt (Ibu dan pengatur rumah tangga).

Banyak wanita yang meninggalkan peran tersebut dan lebih memilih menjadi wanita karir demi membantu perekonomian keluarga.

Dan akhirnya berdampak juga pada terabaikannya hak-hak anak-anak yang yang kita ketahui bersama mereka adalah tunas-tunas generasi. Ibu yang seharusnya menjadi al madrasah al ula (pendidik yang pertama dan utama) justru lebih memilih bekerja membanting tulang memeras keringat.

Bahkan tidak sedikit yang menjadi tulang punggung yang utama bagi keluarganya. Akhirnya membuat anak-anak kurang mendapat perhatian sehingga  memunculkan kenakalan remaja, pergaulan bebas serta maraknya penggunaan narkoba pada anak-anak dan remaja.

Selain itu, banyaknya wanita yang memilih menjadi wanita karir juga menyebabkan disharmonis antara suami dan istri. Yang berakibat pada meningkatnya angka KDRT dan perceraian.

Kemudian permasalahan sosial dan budaya melahirkan berbagai macam dampak negatif dalam masyarakat. Seperti menjamurnya seks bebas dan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) yang membawa dampak lain yaitu semakin tingginya kasus merebaknya HIV/AIDS. Dan hal-hal negatif tersebut  sudah mengalir deras membanjiri kehidupan keluarga-keluarga muslim.

Masalah-masalah di atas diperparah dengan masalah kepemimpinan di negeri ini. Abainya pemerintah terhadap permasalahan-permasalahan tersebut, membuat ancaman terhadap ketahanan keluarga semakin besar. Tentunya akan membuat ketahanan keluarga semakin rapuh.

Jika masalah-masalah ini dibiarkan berlarut-larut tentu akan semakin mengancam ketahanan keluarga. Padahal ketahanan keluarga adalah pilar ketahanan masyarakat dan bangsa.

Oleh karena itu mewujudkan ketahanan keluarga menjadi perkara yang sangat penting. Seluruh keluarga muslim dan para pemimpinnya harus bangkit untuk mengubah kondisi ini.

Dan untuk merubah kondisi ini, harus dilakukan perubahan yang mendasar atau sistemik. Karena akar semua permasalahan ini adalah diterapkannya sistem demokrasi sekuler kapitalis.

Di mana dalam sistem ini menjadi lahan yang subur bagi segala upaya penghancuran keluarga. Dan dalam sistem ini negara kehilangan perannya sebagai pelayan rakyat dan penjaga keluarga.

Negara seharusnya menjadi pilar utama dalam menjaga ketahanan keluarga. Dalam sebuah hadist disampaikan Imam (Khalifah) raain (pengurus hajat hidup rakyat) dan dia bertanggungjawab terhadap rakyatnya (HR. Bukhari).

Dan negara yang bisa mempunyai peran seperti ini adalah negara yang telah dicontohkan oleh suri tauladan terbaik sepanjang masa Rasulullah SAW. Beliau telah mencontohkan sebuah institusi (baca : negara) yang menerapkan syariat Allah SWT.

Di mana beliau sebagai kepala negara telah menjadi raain yang bertanggung jawab kepada rakyatnya. Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai muslim untuk mencontoh apa yang telah dilakukan beliau.[MO]

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.