Header Ads

Seo Services

Mengupas Isu Miras



Oleh : Mesi Tri Jayanti

Mediaoposisi.com- Kreativitas masyarakat dalam membuat inovasi baru saat mengkonsumsi minuman keras (miras) terus menyebabkan bertambahnya daftar korban yang harus meregang nyawa.

Miras oplosan yang dijual, diracik kembali oleh para pembeli. Bahkan mereka tak segan-segan memasukkan obat batuk hingga lotion anti nyamuk dalam racikannya. (bengkulu.antaranews.com) 

Kasus terbaru menimpa Ibukota dan Jawa Barat. Diwilayah hukum Polda Metro Jaya, hingga saat ini ada 33 orang yang meninggal di Jakarta dan sekitarnya.

Rinciannya, 10 orang meninggal di Jakarta Timur, 8 orang meninggal di Jakarta Selatan, 6 orang meninggal di Depok, 7 orang meninggal di Bekasi Kota, dan 2 orang meninggal di Ciputat.

Di Polda Jawa Barat sudah ada 58 yang meninggal. Kemudian ditambah dua warga Ciputat, Tangerang Selatan yang juga meninggal akibat miras oplosan. Sehingga ditotal menjadi 91 yang meninggal dunia. Sementara itu masih ada juga puluhan korban yang dirawat di rumah sakit. (https://www.jpnn.com/news/bertambah-lagi-korban-tewas-miras-oplosan-sudah-91-orang)

Polres Bandung yang di Back Up Direktorat Narkoba Polda Jawa Barat melakukan penyelidikan dan menetapkan 7 Orang DPO atas nama ASEP (A), UWA (U), SONI (SN),  serta SYAMSUDIN SIMBOLON (SS) sebagai pembuat dan sebagai Penjual ASEP(A), WILLY (W) dan ROY (R).
Dugaan Pasal yang diberikan kepada tersangka yaitu :

Pasal 204 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 15 th penjara. Juga Pasal 140 Undang-Undang No 18 tahun 2012 tentang Pangan yang dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah). Juga Pasal 142 Undang Undang No.18 tahun 2012 tentang Pangan yang dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah). (Purwadhi/Kabidhumas Polda Jabar). (faktaindonesianews.com).

Penanganan tindak pidana pengedar miras oplosan sesuai hukum pidana yang berlaku di Indonesia saat ini, ternyata masih belum mampu menekan angka pertumbuhan penggunaan miras itu sendiri. Ini artinya pemberantasan miras tidak pernah serius dilakukan oleh pihak pemerintah.

Maraknya miras oplosan sebagai ancaman nyata ditengah-tengah masyarakat, justru cenderung hanya dimanfaatkan sebagai isu bagi komoditas politik sebagai topik dalam kampanyenya untuk menjatuhkan pihak lawan.

Akibatnya masyarakat malah semakin berinovasi dalam meracik minuman terlarang tersebut menjadi miras oplosan untuk meraup keuntungan materi dan kesenangan yang sesaat.[MO]



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.