Header Ads

Seo Services

Nasib Wanita Era Kapitalisme

Illustrasi

Oleh : Lenny Idris

Mediaoposisi.com-Seakan tidak ada habisnya membicarakan makhluk bernama perempuan. Dari mulai fashion hingga kesetaraan gender dengan laki-laki.

Bahkan beberapa waktu lalu tepatnya 3 maret dimana Momentum International Women’s Day diperingati setiap tahunnya tak terkecuali di tahun 2018 ini dengan tema women’s march Jakarta 2018.

Masih seputar perayaan “Perempuan” maka yang tak kalah menjadi pembahasan di bulan April adalah hari Kartini yang jatuh di 24 April.

Keduanya membicarakan hal yang sama, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam setiap ranah kehidupan. Menuntut hak dan kewajiban dalam porsi yang sama.

Meski pada faktanya malah menjerumuskan perempuan dalam kubangan masalah yang semakin menjadi-jadi, alih-alih mengentas perempuan malah menjadikannya “tidak waras”.

Ibu yang sejatinya perempuan lembut, berbudi luhur sebagai sekolah pertama malah tidak di dapatkan anak karena sibuk membantu suami membanting tulang.

Perempuan seperti sapi perah yang dieksploitasi energinya. Pagi bekerja membantu suami malam sudah letih ingin bercengkrama dengan anak namun anak sudah istirahat, mau berhenti bekerja nafkah suami tidak mencukupi sementara kebutuhan pokok tetap harus tertutupi.Dirundung nestapa.

Belum lagi ketika merasa cemas dan takut ketika ibu sekaligus buruh pabrik hamil.“Ada banyak hal yang menyebabkan buruh perempuan ini merasa cemas atau takut.

Beberapa alasannya karena takut kehilangan pekerjaan, penghasilan kurang dan keguguran. Selain itu fasilitas dan hak yang seharusnya mereka dapatkan ikut terampas” ujar kordinator Program Penelitian Perempuan Mahardika. Republika, 19/12/17.

Sistem kapitalis membuat perempuan keluar dari koridorna sebagai ummu wa robbatul bait. Sistem sekuler memaksa mereka menggadaikan masa depan permata-permata kasih harapan ummat dengan sesuap nasi dari kejamnya sistem.

Perempuan di jaman now bukan hanya menjadi kartini tak berkonde namun ia harus lebih kuat dari yang dibayangkan dengan banyaknya godaan.

Pandangan ini akan berbeda dalam sistem islam yang memuliakan perempuan. Ia makhluk lembut yang wajib dijaga kehormatannya dengan segenap jiwa dan raga. Dijamin haknya, diikut sertakan dalam masyarakat. Namun bukan untuk di eksploitasi.

Semua peran perempuan tanpa meninggalkan kodratnya sebagai madrasah ula hana bisa di dapat di sistem islam yang sudah terbukti melindungi martabatnya.

Sebut saja Khalifah al-Mu’tasim Billah Khalifah kedelapan dinasti Abbasiyah ketika beliau membawa bala tentaranya untuk menakhlukkan kota Amuriyah sekaligus membebaskan seorang wanita pesisir yang menjadi tawanannya.[MO/un]

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.