Header Ads

Seo Services

Aroma Sekularisasi Di Balik Gerakan “Anti Politisasi Masjid”


Oleh: Nur Khamidah 

Mediaoposisi.com-Gerakan Nasional Dukung Joko Widodo membuat program antipolitisasi masjid. Program itu dilakukan melalui ceramah dan pengajian yang digelar relawan untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai tempat ibadah.

Pengisi ceramah adalah ustaz nasionalis dan benar-benar paham agama. Tempo.com 22/04/2018 Gerakan ini dibentuk untuk menolak ceramah politik yang mengarah pada ujaran kebencian dari dalam masjid.

Mereka memandang masjid kerap dipakai untuk melakukan ceramah demi tujuan politik praktis. Seolah menyampaikan politik di masjid adalah melanggar tujuan dari didirikannya sebuah masjid.

Terkait aktivitas politik sendiri, terdapat pengaburan makna dalam masyarakat. Politik hari ini diartikan sebagai sarana menuju kursi jabatan, baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Dalam Islam, aktivitas politik bukan hanya menjelaskan bahwa Islam mencakup masalah politik.

Tapi aktivitas politik yang dimaksud  adalah bagaimana tanggung jawab negara dalam pengaturan dan pemeliharaan urusan umat secara keseluruhan, baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan syariat Islam. 

Jika kita telisik lebih dalam terkait “antipolitisasi masjid”.  Maka akan kita temui bahwa ada bahaya terselubung dari gerakan antipolitisasi masjid yang akan mengancam umat Islam dan ajaran Islam. Gerakan ini berusaha untuk mengamputasi ajaran Islam.

Seolah Islam hanya mengatur masalah salat, zakat, puasa, bersuci, dan akhlak. Urusan pendidikan, pergaulan, hukum sanksi, ekonomi, maupun perpolitikan tidak diatur oleh Islam. Sehinga masjid hanya boleh dijadikan sebagai tempat melakukan salat maupun pengajian.

Pengajian di sini pun tak boleh menyinggung masalah politik. Bagaimana negara harusnya mengelola sumber daya alam, kebijakan terkait pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun hukum sanksi sesuai syariat Islam tidak boleh dibahas di masjid.

Inilah yang dinamakan memisahkan agama dari kehidupan atau sekularisme. Paham sekularisme ini lahir dari sebuah aturan kehidupan yang diterapkan di masyarakat, yaitu Kapitalisme.

Kapitalisme adalah sebuah aturan kehidupan (ideologi) yang mengakui eksistensi agama, tetapi agama tidak boleh mengatur urusan kehidupan. Agama hanya diberi otoritas untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dalam masalah ritual dan spiritual, sedangkan dalam masalah kehidupan, manusialah yang berhak membuat aturan.

Bagi kaum Muslimin, hal ini justru tindak pembangkangan dan pengingkaran terhadap Allah. Maka tidak dibenarkan seorang Muslim menerima ideologi Kapitalisme atau mengambil ide busuk darinya. 

Islam mewajibkan kaum muslimin untuk mengikuti syari'at Allah dan membuang peraturan apa pun selain syari'at Allah. Allah menegaskan dalam Alquran bahwa siapapun yang tidak mengikuti atau menerapkan syari'at Allah, berarti dia telah kafir, dzalim, atau fasik. Allah SWT berfirman: 

"Siapapun yang tidak memutuskan perkara hukum/politik menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir." (Q.S. Al Maaidah: 44)

 "Siapapun yang tidak memutuskan perkara hukum/politik menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang dzalim." (Q.S. Al Maaidah: 45)

"Siapapun yang tidak memutuskan perkara hukum/politik menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang fasik." (Q.S. Al Maaidah: 47).

Kapitalisme yang diterapkan di negeri ini akan terus berupaya menghancurkan Islam dengan cara mengajak kaum Muslimin untuk membuang Akidah Islamiyah dan memeluk akidah pemisahan agama dari kehidupan atau sekularisme.

Inilah upaya Kapitalisme dalam menghancurkan Islam. Niscaya Kapitalisme akan benar-benar menjauhkan Islam secara lebih total dari kehidupan kaum Muslimin. Dan pada saatnya, tak akan ada satu pun ajaran Islam yang tersisa lagi, selain upacara-upacara ritual di tempat-tempat ibadah.[MO/un] 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.