Header Ads

Seo Services

Quo Vadis Pendidikan Indonesia


Oleh : Rahmawati Ayu 

Mediaoposisi.com- “Pak, kalo soal UN hari ini masih susah, saya minta dicariin calon suami saja ya. Capek.”

“Pak kalo UNnya setara SBMPTN nanti nilai saya tinggi langsung keterima  minimal ITB ya Pak, “.Demikian curhat kocak siswa ke akun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), selesai diselenggarakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) beberapa  waktu yang lalu.. (www.detiknews.com/16/04/2018)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meminta siswa yang mengikuti Ujian Nasional (UN) untuk tidak risau dengan soal yang membutuhkan daya nalar tingkat tinggi atau High Order Thinking Skills (HOTS).

Muhadjir sendiri mengakui, pemerintah membuat soal UNBK 2018 lebih sulit dari sebelumnya. Namun, pemerintah bukan tanpa alasan memutuskan untuk membuat soal UNBK yang lebih sulit. 

Kemendikbud sudah mulai menerapkan standar internasional, baik itu untuk matematika, literasi maupun untuk ilmu pengetahuan alam, yaitu yang disebut dengan HOTS.

HOTS adalah singkatan dari high order thinking skills. Pemerintah mengharapkan para siswa mencapai berbagai kompetensi dengan penerapan HOTS,Karena Hal itu dianggap penting untuk pembentukan karakter siswa dan mendorong siswa memiliki kemampuan berpikir kritis. 

Meski demikian, Muhadjir berjanji akan melakukan pembenahan UNBK. "Dengan ini saya janji akan kami benahi, tetapi mohon maklum bahwa ujian nasional dari waktu-waktu harus semakin sulit untuk mengejar ketertinggalan kita," kata dia. (www.tribunnews.com)

HOTS UN, Menjiplak Barat?

HOTS UN terbukti mengikuti standar internasional (Barat). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan soal UNBK 2018 menerapkan standar internasional dari Bank Dunia, yaitu Program for International Student Assessment (PISA). Dengan demikian, dia mengatakan, beberapa soal di UNBK memang sulit seperti yang dikeluhkan siswa. 

"Selama ini yang diterapkan di Indonesia masih cara low order thinking skill. Kalau mau menaikkan standar kemampuan siswa, maka kita harus menggunakan standar internasional," kata Muhadjir di Jakarta, Rabu (www.republika.co.id/26/04/2018)

Dia mengatakan standar PISA menggunakan high order thinking skill (HOTS) sebanyak 25 persen dari soal. Sementara itu, tahun ini, Indonesia masih menggunakan HOTS sekitar delapan persen.

Dia mengatakan pemerintah akan menaikkan persentase HOTS tersebut sebanyak 15 persen tahun 2019. "Kami akan menaikkan jumlah HOTS tersebut secara bertahap hingga sesuai standar PISA," kata dia.

Indonesia masih menjadikan Barat sebagai kiblat sistem pendidikan. Harvard Business School, Massachushate International Technology (MIT), Oxford University, Cambridge University, Chicago University, McGill’s Institute of Islamic Studies dan California University adalah sedikit dari sekian banyak perguruan tinggi yang digandrungi dan diimpikan banyak manusia.

Harus diakui, saat ini, Barat menjadi pusat ilmu di bidang teknologi seperti bidang komputer, material, industri, reaktor nuklir, kedokteran, telekomunikasi, antariksa, satelit, teknologi wireless, renewable energy, image processing, instrumentasi, biologi molekuler dan lain-lain.

Disamping masalah teknologi, Barat juga menjadi kiblat dalam disiplin ilmu sosial seperti politik, pemerintahan, sosiologi, ekonomi, hukum, politik luar negeri, seni, budaya, manajemen, akuntansi, pendidikan dan lainnya. Ternyata tidak hanya masalah teknologi dan ilmu sosial, Barat bahkan menjadi rujukan untuk belajar berbagai agama, tidak terkecuali agama Islam.

Merubah Haluan Kiblat Pendidikan 

Umat Islam harus merubah haluan kiblat pendidikan. Mengapa harus mengubah haluan? Maksudnya merubah kiblat pendidikan model Barat menuju model alternatif (Islam).  Inipun pertanyaan reflekti bagi ummat Muhammad, ummat yang hebat, ummat yang secara fitrah sebagai ummat terbaik.

Jawabannya, pendidikan model Barat bukanlah model ideal dan mendapat ridha. Ia hanya nampak indah bagi pihak-pihak lemah yang tidak memiliki konsep alternatif.

Seharusnya dunia Islam tidak mudah tergoda untuk mengadopsi, dengan atau tanpa modifikasi, sistem mereka.

Apa yang dihasilkan model pendidikan Barat? Output SDM yang professional? Output SDM yang bermoral dan berakhlak? Ilmu ekonomi yang berkeadilan dan mensejahterakan? Ilmu industri yang ramah lingkungan?

Ilmu politik yang menentramkan masyarakat? Ilmu budaya yang beradab?  Ilmu hukum yang adil? Ilmu agama yang mendekatkan kita kepada Allah SWT? Ilmu teknologi yang berkembang cepat dan bermanfaat banyak bagi umat manusia?

Sebagian besar pertanyaan di atas akan kita jawab dengan jawaban ‘TIDAK’, kecuali pertanyaan pertama dan pertanyaan terahir (dengan catatan). Inilah alasan mengapa kita harus pindah haluan. Di dunia, pendidikan Barat bermasalah dan di akherat juga akan bermasalah.

Sistem pendidikan di Barat yang berasaskan kapitalis sekuler terbukti tidak mampu menghasilkan generasi yang beriman, kuat, dan tangguh. Sebab walaupun teknologi semakin maju, tidak menjamin masyarakatnya berakhlaq mulia. Kerusakan dan kebejatan moral generasi seperti pergaulan bebas, miras, dan narkoba terjadi tanpa henti. Bahkan makin menjadi-jadi.[MO/un]





Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.