Header Ads

Seo Services

Waspada Islam Moderat



Oleh: Lussy Deshanti Wulandari

Mediaoposisi.com- Indonesia menjadi tuan rumah Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) islam wasathiyah (pertengahan/moderat) di Bogor pada tanggal 1-3 Mei 2018. Pertemuan tersebut dihadiri 100 ulama dan cendekiawan muslim berpengaruh dunia, untuk mempromosikan konsep islam moderat ke seluruh dunia.

Pengarusopinian islam moderat terus didengungkan ke seluruh mancanegara. Tak terkecuali dengan Indonesia. Bahkan dari KTT tersebut, Indonesia diharapkan menjadi poros islam moderat dunia. Sebagai role model negara yang menerapkan konsep wasathiyah. Karena potensi Indonesia yang beranekaragam dan sebagai negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia.

Konon, konsep islam moderat disosialisasikan secara terus menerus untuk menghalau islam radikal. Apakah itu islam moderat dan radikal? Adakah polarisasi ini dalam islam?

Istilah moderat dan radikal muncul sejak peristiwa WTC 11 September 2001. Dimana kelompok muslim dituduh bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Akhirnya diciptakanlah istilah islam radikal/garis keras/ekstrimis untuk menggambarkan kelompok islam tertuduh itu. Lalu, untuk menggambarkan islam yang berbeda dari radikal, maka terciptalah istilah islam moderat. Islam yang ramah, toleran dan cinta damai.

Sekilas, istilah moderat terlihat baik dan elegan. Namun, apabila kita lihat siapa yang menginisiasi gagasan tersebut (yang tidak lain adalah Barat), maka tujuan polarisasi islam menjadi moderat dan radikal, tidak jauh dari kepentingan Barat itu sendiri.

Islam moderat digambarkan sebagai kelompok islam yang tidak anti Barat, menjaga sistem Kapitalisme dan sekulerisme, yang mau menerima nilai-nilainya seperti demokrasi dan HAM, serta mau berkompromi dengan kepentingan Barat dan tidak menentangnya. Kelompok islam moderat ini dianggap kelompok islam yang ramah, toleran, mengedepankan kompromi dan bisa menjadi mitra Barat.

Sebaliknya, islam radikal digambarkan sebagai islam yang anti Barat. Yang menolak sistemnya dan semua nilai yang diturunkan Barat.  Menolak hegemoni asing dan menyerukan persatuan islam dan kaum muslimin.

Dengan kata lain, kelompok islam radikal itu adalah mereka yang setia dengan pandangan hidup dan nilai-nilai Islam, serta taat pada ideologi dan syariat Islam. Bagi Barat, kelompok Islam ini bukan saja dianggap sebagai Islam yang keras dan anti-Barat, tetapi juga dianggap sebagai ancaman untuk peradaban mereka.

Inilah pandangan Barat dalam mengistilahkan islam menjadi moderat dan radikal. Nampak bahwa polarisasi ini justru merupakan bagian strategi Barat untuk memecah belah umat. Supaya islam dan kaum muslimin tidak dapat bersatu. Sebagai strategi untuk memuluskan kepentingan Barat dan menjaga peradabannya supaya tetap eksis.

Padahal, islam menyerukan pada penganutnya untuk berislam kaffah. Menerapkan seluruh aturan Allah. Sebagaimana firman Allah ta'ala dalam Alqur'an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS. Al Baqarah: 208).

Jelaslah bahwa upaya mewacanakan islam moderat ditujukan untuk menghalau islam kaffah. Maka, sadarlah wahai umat! Janganlah terkecoh dan mengikuti opini yang sengaja diaruskan Barat dengan mengkampanyekan islam moderat. Karena islam menyerukan berislam kaffah.

 Mewujudkan islam rahmatan lil 'alamin dengan tunduk kepada Allah swt dan menerapkan seluruh aturannya tanpa kompromi.[MO]

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.